BADAK JAWA

BADAK JAWA

 

Ayo coba sebut, hewan apa yang paling langka yang ada di Indonesia? Kebanyakan akan menyebut komodo, harimau sumatra, elang jawa, atau burung cendrawasih di Papua. Banyak yang lupa bahwa badak jawa merupakan salah satu binatang mamalia besar yang kini semakin terancam keberadaanya.

Keberadaan badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon kini semakin kritis. Ancaman kepunahan badak bercula satu itu telah berada di depan mata. Nama komodo (Varanus komodoensis) mungkin lebih populer dibandingkan badak jawa. Beberapa tahun lalu, Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur bahkan santer digaungkan banyak pihak seteah menjadi nomine New 7 Wonders atau 7 keajaiban dunia.

Kondisi badak jawa kini justru jauh lebih mengkhawatirkan. Jika IUCN Red List mencatat populasi komodo di alam liar sekitar 4.000 hingga 5.000 ekor, maka badak jawa kini hanya tinggal 50 hingga 60 ekor di alam liar dan hanya hidup di Taman Nasional Ujung Kulon, Provinsi Banten, tepatnya pada bagian paling barat Pulau Jawa. Tak seperti komodo, badak jawa tak ditemukan di kebun binatang mana pun di dunia. Badak ini kemungkinan adalah mamalia terlangka di bumi.

IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) Red List adalah daftar yang membahas status konservasi berbagai jenis makhluk hidup di dunia. IUCN memasukkan status badak jawa sebagai spesies yang sangat kritis terancam punah (critically endangered) atau hanya tinggal satu tahap lagi sebelum dinyatakan punah di alam liar. Tak menutup kemungkinan, keberadaan badak jawa akan menyusul badak hitam (Diceros bicornis longipes) di Afrika yang telah lebih dulu dinyatakan punah di dunia.

Badak jawa pernah tersebar luas di wilayah Bangladesh, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, serta bagian selatan Tiongkok. Semua spesies badak jawa di negara-negara tadi telah dinyatakan punah (terakhir di Vietnam), kebanyakan disebabkan oleh perburuan cula badak untuk obat serta terdegradasinya habitat badak di alam liar.

Di Indonesia, kemungkinan besar badak bercula satu pernah tersebar luas di Sumatra serta seluruh Pulau Jawa. Ditemukannya fosil badak bercula satu di Cipeundeuy Padalarang Jawa Barat dan Sungai Bengawan Solo Jawa Tengah merupakan salah satu bukti tak terbantahkan tentang keberadaannya yang tak hanya di Ujung Kulon pada masa silam.

Jangan pula lupa, tempat bernama Ranca Badak (tempat badak berkubang) telah melekat pada benak masyarakat Sunda, yang kini menjadi Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Patung badak bercula satu juga masih tegap berdiri di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana.

Badak jawa kini hanya ditemui di Taman Nasional Ujung Kulon. Secara administratif, Ujung Kulon berada di wilayah Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Ujung Kulon memiliki luas daratan 78.525 hektare dan telah dinyatakan UNESCO sebagai situs warisan dunia (world heritage site) sejak 1991.

Populasi badak jawa secara persis belum dapat diketahui. Sifatnya yang sangat sensitif sangat menyulitkan pendataan. Menemukan badak jawa di habitat aslinya bukanlah pekerjaan mudah. Beberapa petugas dengan masa kerja puluhan tahun yang kerap patroli di hutan secara berkala bahkan mengaku melihat badak beberapa kali saja.

Namun, berdasarkan sejumlah metode ilmiah, jumlah badak jawa di Ujung Kulon diperkirakan tak lebih dari 50 hingga 60 ekor. Perkiraan jumlah itu muncul berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang mengumpulkan sejumlah bukti keberadaan mereka berupa tapak kaki, kotoran, hingga badak yang tertangkap kamera foto yang dipasang WWF hingga 2009.

Author: jordan smith

Jordan memulai hasratnya untuk menulis sebagai penggemar olahraga. Anda akan melihatnya meliput beberapa liga bola basket selalu mencari cerita yang bagus untuk diceritakan. Dari waktu ke waktu, ia juga membenamkan diri dalam penulisan untuk olahraga lain seperti MMA dan Sepak Bola.