KUKANG SUMATERA

KUKANG SUMATERA

Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) atau Greater Slow Loris adalah satu dari tiga jenis kukang Indonesia. Selain Kukang Sumatera, dua jenis lainnya adalah Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) dan Kukang Kalimantan (Nycticebus menagensis).

Nama latin hewan primata ini adalah Nycticebus coucang (Boddaert, 1785). Mempunyai beberapa sinonim seperti Nycticebus brachycephalus Sody, 1949, Nycticebus buku Robinson, 1917, Nycticebus hilleri Stone & Rehn, 1902, Nycticebus insularis Robinson, 1917, Nycticebus malaiana Anderson, 1881, Nycticebus natunae Stone & Rehn, 1902, Nycticebus sumatrensis Ludeking, 1867, Nycticebus tardigradus (Raffles, 1821).

Dalam bahasa Inggris, Kukang Sumatera dikenal dengan sebutan Greater Slow Loris, Sunda Slow Loris, atau Slow Loris.

Panjang tubuh Kukang Sumatera antara 27-38 cm dengan berat tubuh berkisar antara 600-700 gram. Tubuh Kukang Sumatera ini lebih besar dibanding saudaranya, Kukang Kalimantan namun lebih kecil dibanding Kukang Jawa. Spesies ini memiliki kepala bulat dengan moncong pendek dan tubuh gempal. Warna bulu tubuhnya bervariasi, namun umumnya berwarna kemerahan.

Terdapat garis sepanjang punggung yang berwarna coklat gelap. Ekor dan telinga sangat kecil, tersembunyi di antara bulu-bulunya. Wajah datar dan memiliki mata yang besar. Sebagaimana jenis kukang lainnya, Kukang Sumatera memiliki sepasang gigi taring yang beracun.

Kukang Sumatera atau Greater Slow Loris, merupakan binatang asli Indonesia yang mendiami pulau Sumatera. Daerah sebarannya Indonesia meliputi Pulau Sumatera, Batam dan Galang (Kep. Riau), Tebingtinggi dan Bunguran (Kep. Natuna). Selain itu juga di Semenanjung Malaysia, Singapura, dan Thailand. Mendiami hutan hujan tropis dataran rendah, baik hutan primer maupun sekunder di daerah dataran rendah.

Kukang Sumatera merupakan hewan nokturnal (aktif di malam hari) dan arboreal (banyak beraktifitas di atas pohon). Bergerak secara perlahan, seperti merangkak, di pepohonan. Di alam liar hidup hingga usia 22 tahun sedangkan di penangkaran dapat hidup hingga usia 25 tahun.

Hewan ini juga hidup secara soliter, dengan kelompok terdiri atas sepasang kukang dewasa dan 1-3 kukang muda. Hewan langka ini termasuk omnivora. Memakan buah-buahan, batang dan kulit kayu, artropoda (seperti laba-laba), nektar, siput, dan telur burung.

Populasi Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) diyakini terus menurun. Secara alami mereka dipredasi oleh Ular Sanca Kembang (Python reticulatus) dan Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus). Sedangkan ancaman terhadap kelestarian Kukang Sumatera yang terbesar adalah perburuan dan penangkapan untuk diperjualbelikan sebagai binatang peliharaan.

Dengan populasinya yang terus mengalami penurunan, IUCN Redlist mendaftar Kukang Sumatera sebagai spesies Vulnerable (Hampir Terancam). Sedangkan CITES mendaftarnya sebagai Appendix I. Di Indonesia, Kukang ini termasuk hewan yang dilindungi berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999.

Author: jordan smith

Jordan memulai hasratnya untuk menulis sebagai penggemar olahraga. Anda akan melihatnya meliput beberapa liga bola basket selalu mencari cerita yang bagus untuk diceritakan. Dari waktu ke waktu, ia juga membenamkan diri dalam penulisan untuk olahraga lain seperti MMA dan Sepak Bola.