Kura-Kura Moncong Babi

Kura-Kura Moncong Babi

Kura-Kura Moncong Babi adalah salah satu jenis Kura-Kura yang berasal dari Indonesia asli. Kura-Kura Moncong Babi biasa temukan di sungai-sungai di daerah Danau jamur hingga daerah Merauke, Irian Jaya dan daerah utara Australia.

Jenis Kura-Kura ini lebih sering hidup di dalam air, tak heran jika kaki yang dimiliki Kura-Kura ini memiliki sirip renang, sama seperti penyu air laut. Alasan Kura-Kura ini dinamai Moncong Babi tak lain karena ia moncong yang meyerupai hidung babi, dan Kura-Kura ini juga memiliki tempurung (karapas) yang cukup tebal dibanding dengan Kura-Kura yang lainnya.

Walaupun hewan ini termasuk kategori hewan yang dilindungi, namun tak sedikit pula orang memeliharanya di rumah. Nah, bagi Anda yang juga tertarik menjadikan hewan ini sebagai peliharaan, sebaiknya Anda terlebih dahulu mencari tahu karakter dan sifat Kura-Kura ini di alam, serta mengetahui cara merawatnya dengan baik dan benar.

Perburuan liar kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) mengancam kelestarian satwa endemik Papua itu. Pemanfaatan kura-kura moncong babi sangat tinggi, bahkan tidak ada telur ditinggalkan dalam sarang untuk menetas.

Saat ini, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua bekerja sama dengan BP2LH Manokwari serta Usaid Lestari mengkaji populasi dan ancaman kelestarian kura-kura moncong babi. Populasinya hanya ditemukan di beberapa tempat di wilayah pesisir selatan Papua

Sepanjang dua tahun terakhir, penyelundupan lebih dari 2.500 ekor kura-kura moncong babi lewat Jakarta digagalkan. Reptil air endemis Papua bagian selatan ini sangat digemari sebagai hewan peliharaan ataupun santapan di luar negeri. Dalam daftar Konvensi Perdagangan Internasional terkait Spesies Terancam Punah dari Tanaman dan Hewan Liar (CITES) 12 Januari 2005, kura-kura dengan bentuk moncong seperti babi ini diklasifikasikan dalam Apendiks II. Artinya, keberadaan di alam tak terancam punah meski perdagangannya harus dikendalikan.

Meski dilindungi, di Indonesia belum ada riset menyeluruh yang bisa menggambarkan kondisi hewan ini di alam. Lalu mengapa dimasukkan dalam CITES? Kementerian Kehutanan beralasan, perlindungan terhadap spesies ini diutamakan meski minim data ilmiah.

”Fauna ini endemis dan eksotis. Hanya ada di Indonesia, Papua Niugini, dan sebagian Australia. Karena itu, meski belum diketahui kelimpahannya, kami lindungi dulu daripada tiba-tiba sudah punah di alam,” kata Bambang.

Sebuah hasil penelitian berupa survei populasi sarang di Sungai Vriendschap, Asmat, Papua, yang dilakukan peneliti Balai Penelitian Kehutanan Manokwari di Papua Barat, Oktober-November 2009 selama 4 minggu, didapatkan populasi sarang ada 720 buah. Penelitian November 2011 selama 3 minggu menemukan 131 sarang

Author: admin