Burung Kangkareng Perut Putih

Fauna Indonesia – Burung Kangkareng Perut Putih atau nama latinnya Anthracoceros albirostris merupakan jenis burung pemakan biji-bijian yang dapat ditemukan di Indonesia.

Ciri Fisik
Berukuran kecil (45 cm), berwarna hitam dan putih. Tanduk besar, berwarna putih-kuning. Bulu hitam seluruhnya, kecuali bercak di bawah mata, berut bawah, pada, dan penutup ekor bawah putih serta ujung putih pada bulu terbang dan bulu ekor terluar.
Mata coklat tua, kulit tidak berbulu di sekitar mata dan tenggorokan berwarna putih, paruh dan tanduk putih-kuning dengan bintik putih pada pangkal rahang bawah dan tanduk bagian depan, kaki hitam.

Penyebaran dan ras
India utara, Cina selatan, Asia tenggara, Semenanjung Malaysia, dan Sunda Besar. Terdiri dari dus sub-spesies:

  • albirostris (Shaw & Nodder, 1790) – India utara dan Nepal selatan ke timur sampai China selatan (Yunnan, Guangxi), dan ke selatan sampai Semenanjung Malaysia utara, Kamboja barat-daya dan Vietnam selatan.
  • convexus (Temminck, 1831) – Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali, termasuk pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Taksonomi
Ke dalam jenis ini termasuk Kangkareng utara A. Albirostris dan Kangkareng selatan A. Convexus, tetapi Kangkareng Malabar A. coronatus tidak termasuk. Akan tetapi, kalau semua jenis tersebut digabungkan, maka nama A. Coronatus harus dipakai sebagai nama jenis.

Tempat hidup dan Kebiasaan
Burung yang mencolok di hutan primer dan hutan sekunder dataran rendah di seluruh Sunda Besar. Dibandingkan dengan enggang lain, lebih menyukai habitat yang lebih terbuka seperti pinggir hutam, hutan bekas tebangan, dan hutan sekunder. Ditemukan berpasangan atau dalam gerombolan yang ribut, mengepak-ngepak atau meluncur di antara pepohonan. Memakan jengkerik, buah-buahan, reptilia kecil.
Telur dua butir berwarna putih dengan bercak keungu-unguan yang diletakkan dalam lubang pohon dengan cara yang khas untuk burung rangkong, yaitu terkurung di dalamnya. Di Jawa Tengah tercatat berbiak pada bulan Nopember.

Baca Juga:

Nuri Raja Papua

Fauna Indonesia – Nuri Raja Papua juga dikenal sebagai burung nuri raja bersayap hijau, adalah spesies burung nuri di keluarga Psittaculidae yang ditemukan di Papua. Habitat alamnya adalah hutan dataran rendah lembab subtropis atau tropis dan hutan hujan basah subtropis atau tropis.

Pertama kali dideskripsikan oleh ahli ornitologi Australia Edward Pierson Ramsay pada tahun 1879, burung Nuri raja Papua adalah salah satu dari tiga spesies yang dikenal sebagai Nuri raja yang ditemukan di Australia, Papua New Guinea, dan Papua Barat / Indonesia.

Tiga subspesies diakui:
  • A. chloropterus (Ramsay, EP 1879)
  • A. c. callopterus (Albertis & Salvadori 1879) ditemukan di Dataran Tinggi Tengah sebelah barat Pegunungan Weyland, daerah Sungai Sepik dan Sungai Terbang atas.
  • A. c. chloropterus (Ramsay, EP 1879), subspesies yang menominasikan, terjadi di bagian timur New Guinea ke Semenanjung Huon di utara, dan Hall Sound di selatan.
  • A. c. moszkowskii (Reichenow 1911) ditemukan di utara pulau, dari Teluk Cenderawasih timur ke wilayah Aitape.

Burung Nuri raja Papua berukuran 36 cm (14 inci) termasuk ekor panjang yang lebar. Ini memiliki kaki abu-abu gelap dan iris oranye. Tiga subspesies burung Nuri Papua semuanya menunjukkan dimorfisme seksual dan di ketiga subspesies laki-laki. Dapat diidentifikasi oleh band pale hijau luas yang menonjol pada setiap sayap (menyerupai garis bahu). Perbedaan pada betina antara subspesies lebih ditandai daripada perbedaan pada laki-laki.

Sang jantan memiliki kepala dan leher merah, bagian bawah merah, punggung dan pantat biru, sayap hijau masing-masing dengan pita hijau pucat yang luas. Pada laki-laki A. c. chloropterus biru memanjang ke atas dari belakang ke leher belakang. Di betina dari A. c. chloropterus dan A. c. calloterus abdomen berwarna merah, hijau di atas kepala dan leher. Terus menerus berwarna hijau di punggung dan sayap, dan dada memiliki goresan hijau dan merah yang kabur. Betina subspesies A. c. moszkowskii memiliki kepala merah, leher, dada, dan perut bagian bawah menyerupai laki-laki, dan berbeda dari laki-laki dengan pita sayap pucat-hijau yang jauh lebih kecil.

Habitat

Ditemukan di Papua, Timur New Guinea di Weyland Mountains, hidup di hutan hingga ketinggian 2600 m

Karakteristik

Burung dijumpai satu atau dua ekor, atau dalam kelompok kecil hingga 10 burung. Mereka makan dengan tenang di hutan lebat umumnya di pohon-pohon kecil atau cabang cabang rendah dari pohon besar, dan sering tidak disadari. Mereka makan buah beri, buah, biji dan mungkin beberapa serangga.

Baca Juga :

Elang Coklat

Elang Coklat atau biasa disebut juga dengan sebutkan Accipiter fasciatus merupakan jenis burung pemangsa dari Indonesia Timur.

Ciri-ciri

Berukuran sedang (31-43 cm) berkerah merah karat, ekor bundar panjang dan tubuh bagian bawah berpalang warna kayu manis serta sera hijau pucat. Remaja: dada bagian atas bercoret, sedang dada bagian bawah dan sisi tubuh berpalang. Jantan bernada tinggi, rangkaian “hikikiki!” cepat yang terdiri dari 12 atau lebih nada samar, meninggi dengan teratur.

Habitat
Burung ini dapat ditemukan disejumlah daerah yaitu Indonesia timur, Australia, New Caledonia, dan Vanuatu. Burung penetap yang sesekali dijumpai di semak dan savana sampai ketinggian 1200 m di Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua.

Nama Lainnya:

  • natalis (Lister, 1889) – P. Christmas.
  • tjendanae Stresemann, 1925 – Sumba.
  • wallacii (Sharpe, 1874) – Sunda Kecil, dari Lombok ke timur sampai Babar.
  • stresemanni Rensch, 1931 – Pulau-pulau kecil antara Sulawesi dan Sunda Kecil.
  • hellmayri Stresemann, 1922 – Timor, Alor, Roti (Sunda Kecil).
  • savu Mayr, 1941 – Sawu (Sunda Kecil).
  • polycryptus Rothschild & Hartert, 1915 – Papua bagian timur.
  • dogwa Rand, 1941 – Papua bagian selatan.
  • didimus (Mathews, 1912) – Australia Utara; Buru (Maluku Selatan).
  • fasciatus (Vigors & Horsfield, 1827) – Timor Leste; Australia dan Tasmania; Kep. Rennell dan Bellona (Solomons).
  • vigilax (Wetmore, 1926) – New Caledonia, Kep. Loyalty, Vanuatu.

Karakteristik Elang Coklat
Bertengger untuk periode yang lama, melayang dengan sayap agak terangkat ke atas di habitat terbuka untuk berburu makanan. Memakan burung kecil, kelinci muda, dan kadal.

Musim berbiak September-Desember. Sarang terbentuk dari batang dan ranting pohon yang dijalin dengan dengan dedaunan, terletak pada percabangan utama pohon 2-36 m di atas permukaan tanah. Telur 2-4 butir dengan waktu pengeraman 29-33 hari. Anakan mulai belajar terbang setelah berumur 28-37 hari. Pada fase awal pertumbuhan anak, hanya jantan yang berburu makanan, sedangkan betina tetap berada di sarang.

Baca Juga :

Elang Alap Kalung (Accipiter cirrocephalus)

Elang Alap Kalung (Accipiter cirrocephalus) merupakan jenis burung pemangsa berukuran kecil dan ramping yang dapat ditemukan di Australia, Papua, Kepulauan Aru, Tasmania, Guinea Baru dan pulau-pulau kecil didekatnya.

Ciri Fisik
Berukuran sedang (30-41 cm). Badannya ramping dan kecil. Lehernya berwarna merah karat. Ekornya berpalang dengan ujung berbentuk segiempat. Sewaktu masih remaja, bagian bawah tubuhnya berwarna pucat, dada bercoret gelap, sera hijau pucat, dan sisi tubuh berpalang. Suaranya berupa serangkaian sekitar 7 nada tinggi dan kencang (2/detik). Rangkaian nada meninggi.

Habitat
Elang-alap tersebar di Maluku, Papua, dan Australia. Secara lokal dapat ditemui di Pulau Seram, Pulau Buru, Irian Jaya dan pulau-pulau satelitnya. Dapat ditemui sampai ketinggian 2500 m, tetapi umumnya hanya sampai ketinggian 1000 m.

Berikut ini adalah subspesies elang-alap kalung:

  • papuanus (Rothschild & Hartert, 1913) – Papua, Kepulauan Papua Barat, Kepulauan Aru.
  • rosselianus Mayr, 1940 – Pulau Rossel (Gugus Kep. Louisiade).
  • cirrocephalus (Vieillot, 1817) – Australia, Tasmania.

Karakteristik
Berkembangbiak pada Juli-Desember. Sarangnya terletak di percabangan primer pohon pada ketinggian 4-39 m. Jumlah telurnya adalah 3-4 butir, tetapi terkadang berjumlah 2-5 butir. Dierami 25 hari lamanya dan anakan meninggalkan sarang setelah 28-33 hari. Makanannya adalah burung-burung kecil dari golongan burung pengicau, kadal, serangga, dan terkadang mamalia kecil.

Baca Juga Artikel: BURUNG KUTILANG

Sanca Batik

Sanca Batik atau Sanca kembang merupakan jenis ular dari suku Pythonidae. Ukuran dikatakan dapat melebihi 8.5 meter dan merupakan ular terpanjang di dunia. Lebih panjang dari anakonda (Eunectes), ular terbesar dan terpanjang di Amerika Selatan. Nama-nama lainnya adalah ular sanca; ular sawah; sawah-n-etem (Simeulue); ular petola (Ambon); dan dalam bahasa Inggris reticulated python atau kerap disingkat retics. Sedangkan nama ilmiahnya yang sebelumnya adalah Python reticulatus, kini diubah genusnya menjadi Malayopython reticulatus.

Baca Juga: KUCING HUTAN / FELIS BENGALENSIS

Keluarga sanca (Pythonidae) relatif mudah dibedakan dari ular-ular lain dengan melihat sisik-sisik dorsalnya yang lebih dari 45 deret, dan sisik-sisik ventralnya yang lebih sempit dari lebar sisi bawah tubuhnya. Di Indonesia barat, ada tiga spesies bertubuh gendut pendek yakni kelompok ular peraca (Python curtus group: P. curtus, P. brongersmai dan P. breitensteini) di Sumatera, Kalimantan dan Semenanjung Malaya.

Dua spesies yang lain bertubuh relatif panjang, pejal berotot: P. molurus (sanca bodo) dan M. reticulatus. Kedua-duanya menyebar dari Asia hingga Sunda Besar, termasuk Jawa. P. molurus memiliki pola kembangan yang berbeda dari reticulatus, terutama dengan adanya pola V besar berwarna gelap di atas kepalanya. Sanca kembang memiliki pola lingkaran-lingkaran besar berbentuk jala (reticula, jala), tersusun dari warna-warna hitam, kecoklatan, kuning dan putih di sepanjang sisi dorsal tubuhnya. Satu garis hitam tipis berjalan di atas kepala dari moncong hingga tengkuk, menyerupai garis tengah yang membagi dua kanan kiri kepala secara simetris. Dan masing-masing satu garis hitam lain yang lebih tebal berada di tiap sisi kepala, melewati mata ke belakang.

Sisik-sisik dorsal (punggung) tersusun dalam 70-80 deret; sisik-sisik ventral (perut) sebanyak 297-332 buah, dari bawah leher hingga ke anus; sisik subkaudal (sisi bawah ekor) 75-102 pasang. Perisai rostral (sisik di ujung moncong) dan empat perisai supralabial (sisik-sisik di bibir atas) terdepan memiliki lekuk (celah) pendeteksi panas (heat sensor pits) (Tweedie 1983).

Sanca kembang terhitung ular terpanjang di dunia. Ular terpanjang yang terkonfirmasi berukuran 6.95 m di Balikpapan, Kalimantan Timur[1] sedangkan berat maksimal yang tercatat adalah 158 kg (347.6 lbs). Ular sanca termasuk ular yang berumur panjang, hingga lebih dari 25 tahun.

Sanca Batik

Ular-ular betina memiliki tubuh yang lebih besar. Jika yang jantan telah mulai kawin pada panjang tubuh sekitar 7-9 kaki, yang betina baru pada panjang sekitar 11 kaki. Dewasa kelamin tercapai pada umur antara 2-4 tahun.

Musim kawin berlangsung antara September hingga Maret di Asia. Berkurangnya panjang siang hari dan menurunnya suhu udara merupakan faktor pendorong yang merangsang musim kawin. Namun, musim ini dapat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Shine et al. 1999 mendapatkan bahwa sanca kembang di sekitar Palembang, Sumatera Selatan, bertelur antara September-Oktober; sementara di sekitar Medan, Sumatera Utara antara bulan April-Mei.

Jantan maupun betina akan berpuasa di musim kawin, sehingga ukuran tubuh menjadi hal yang penting di sini. Betina bahkan akan melanjutkan puasa hingga bertelur, dan sangat mungkin juga hingga telur menetas (McCurley 1999).

Sanca kembang bertelur antara 10 hingga sekitar 100 butir. Telur-telur ini ‘dierami’ pada suhu 88-90 °F (31-32 °C) selama 80-90 hari, bahkan bisa lebih dari 100 hari. Ular betina akan melingkari telur-telur ini sambil berkontraksi. Gerakan otot ini menimbulkan panas yang akan meningkatkan suhu telur beberapa derajat di atas suhu lingkungan. Betina akan menjaga telur-telur ini dari pemangsa hingga menetas. Namun hanya sampai itu saja; begitu menetas, bayi-bayi ular itu ditinggalkan dan nasibnya diserahkan ke alam.

Sanca Batik

Sanca kembang menyebar di hutan-hutan Asia Tenggara. Mulai dari Kep. Nikobar, Burma hingga ke Indochina; ke selatan melewati Semenanjung Malaya hingga ke Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara (hingga Timor), Sulawesi; dan ke utara hingga Filipina (Murphy and Henderson 1997).

Sanca kembang hidup di hutan-hutan tropis yang lembap (Mattison, 1999). Ular ini bergantung pada ketersediaan air, sehingga kerap ditemui tidak jauh dari badan air seperti sungai, kolam dan rawa.

Makanan utamanya adalah mamalia kecil, burung dan reptilia lain seperti biawak. Ular yang kecil memangsa kodok, kadal dan ikan. Ular-ular berukuran besar dilaporkan memangsa anjing, monyet, babi hutan, rusa, bahkan manusia yang ‘tersesat’ ke tempatnya menunggu mangsa (Mattison 1999, Murphy and Henderson 1997, Shine et al. 1999). Ular ini lebih senang menunggu daripada aktif berburu, barangkali karena ukuran tubuhnya yang besar menghabiskan banyak energi.

Mangsa dilumpuhkan dengan melilitnya kuat-kuat (constricting) hingga mati kehabisan napas. Beberapa tulang di lingkar dada dan panggul mungkin patah karenanya. Kemudian setelah mati mangsa ditelan bulat-bulat mulai dari kepalanya.